Nah, sekarang kita akan membahas seluk beluk sejarah Kimono dari awal ditemukannya dan perkembangannya sampai sekarang.
Siapa sangka Kimono yang bentuk dan lapisannya rumit itu merupakan pakaian sehari-hari orang Jepang pada zaman dulu lho minna-san! Gak kebayang kan kira-kira serumit apa orang Jepang dulu, mungkin memakan sedikit waktu untuk berpakain saja.
Bayangkan jika Kimono sampai sekarang merupakan baju sehari-hari mereka, pasti bakalan ribet deh minna-san. Apalagi orang zaman sekarang gak mau banyak ribet, pokoknya yang simple aja deh!
Kira-Kira gimana sih sejarah Kimono dan perkembangannya sampai sekarang ini? Darimana asal diciptakannya Kimono? Cek aja yuk kisahnya dibawah ini!
Kimono, secara harfiah berarti "Sesuatu yang dipakai"
着物(Kimono) 着 berarti memakai, dan 物 berarti barang/sesuatu. Jadi Kimono adalah sesuatu yang dipakai, yah sederhananya baju, minna-san.
Pada zaman sekarang, kimono bentuknya seperti huruf "T", mirip mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat sampai ke pergelangan. Wanita memakai kimono berbentuk baju terusan, sementara pria memakai kimono berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Sabuk kain yang disebut obi dililitkan di bagian perut/pinggang, dan diikat di bagian punggung. Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalah zoori atau geta.
Pemakaiannya memang ribet minna-san, Tapi itulah keunikan dari Kimono itu sendiri.
Zaman Jomon dan Zaman Yayoi
Kimono zaman Jomon dan zaman Yayoi berbentuk seperti baju terusan. Dari situs arkeologi tumpukan kulit kerang zaman Jomon ditemukan Haniwa. Pakaian atas yang dipakai haniwa disebut kantoi (貫頭衣).
Dalam Gishiwajinden (buku sejarah Cina mengenai tiga negara) ditulis tentang pakaian sederhana untuk laki-laki. Sehelai kain diselempangkan secara horizontal pada tubuh pria mirip pakaian Biksu, dan sehelai kain dililitkan di kepala. Pakaian wanita dinamakan kantoi. Di tengah sehelai kain dibuat lubang untuk memasukkan kepala. Tali digunakan sebagai pengikat di bagian pinggang.
Masih menurut Gishiwajinden, kaisar wanita bernama Himiko dari Yamataikoku (sebutan zaman dulu untuk Jepang) "selalu memakai pakaian kantoi berwarna putih". Serat rami merupakan bahan pakaian untuk rakyat biasa, sementara orang berpangkat mengenakan kain sutra.
Zaman Kofun
Pakaian pada zaman Kofun mendaptkan pengaruh dari daratan Cina, dan terdiri dari dua potongan pakaian pakaian atas dan pakaian bawah. Haniwa mengenakan baju atas seperti mantel yang dipakai menutupi kantoi. Pakaian bagian bawah berupa rok yang dililitkan di pinggang. Dari penemuan Haniwa terlihat pakaian berupa celana berpipi lebar seperti hakama.
- Kerah datar sampai persis dibawah leher (agekubi)
- Kerah berbentuk huruf "V" (tarekubi) yang dipertemukan dibagian dada.
Pada zaman Kofun mulai dikenal pakaian yang dijahit. Bagian depan kantoi di buat terbuka dengan lengan baju bagian bawah mulai dijahit agar mudah dipakai.
Zaman Nara
Pangeran Shotoku menetapkan dua belas strata jabatan dalam istana kaisar yang disebut kan-i jūnikai. Pejabat istana dibedakan menurut warna hiasan penutup kepala (kanmuri). Dalam kitab hukum Taiho Ritsuryo dimuat peraturan tentang busana resmi, busana pegawai istana, dan pakaian seragam dalam istana. Pakaian formal yang dipakai pejabat sipil (bunkan) dijahit di bagian bawah ketiak. Pejabat militer memakai pakaian formal yang tidak dijahit di bagian bawah ketiak agar pemakainya bebas bergerak. Busana dan aksesori zaman Nara banyak dipengaruhi budaya Cina yang masuk ke Jepang. Pengaruh budaya Dinasti Tang ikut memopulerkan baju berlengan sempit yang disebut kosode untuk dipakai sebagai pakaian dalam. Pada zaman Nara terjadi perubahan dalam cara mengenakan kimono. Kalau sebelumnya kerah bagian kiri harus berada di bawah kerah bagian kanan, sejak zaman Nara, kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Cara memakai kimono dari zaman Nara terus dipertahankan sampai sekarang minna-san.
Zaman Heian
Penghentian pengiriman utusan Jepang untuk Dinasti Tang (kentoshi) memicu pertumbuhan budaya lokal. Tata cara berbusana dan standardisasi untuk upacara-upacara formal mulai ditetapkan secara resmi. Ketetapan tersebut membuat semakin rumitnya tata busana zaman Heian. Wanita zaman Heian memakai pakaian berlapis-lapis yang disebut jūnihitoe. Nggak hanya wanita zaman Heian, pakaian formal untuk militer juga menjadi tidak praktis.
Ada tiga jenis pakaian untuk pejabat pria pada zaman Heian:
- Sokutai (pakaian upacara resmi berupa setelan lengkap)
- I-kan (pakaian untuk tugas resmi sehari-hari yang sedikit lebih ringan dari sokutai)
- Noshi (pakaian untuk kesempatan pribadi yang terlihat mirip dengan i-kan).
Rakyat biasa mengenakan pakaian yang disebut suikan atau kariginu (狩衣, artinya: baju berburu). Pada zaman Heian terjadi pengambilalihan kekuasaan oleh kalangan samurai, dan bangsawan istana dijauhkan dari dunia politik. Pakaian yang dulunya merupakan simbol status bangsawan istana dijadikan simbol status kalangan samurai.
Zaman Kamakura dan Muromachi
Pada zaman Sengoku, kekuasaan pemerintahan berada di tangan samurai. Samurai mengenakan pakaian yang disebut suikan. Pakaian jenis ini nantinya berubah menjadi pakaian yang disebut hitatare. Pada zaman Muromachi, hitatare merupakan pakaian resmi samurai. Pada zaman Muromachi dikenal kimono yang disebut suō (素襖), yakni sejenis hitatare yang tidak menggunakan kain pelapis dalam. Ciri khas suō adalah lambang keluarga dalam ukuran besar di delapan tempat. Pakaian wanita juga makin sederhana. Rok bawah yang disebut mo (裳?) makin pendek sebelum diganti dengan hakama. Setelan mo dan hakama akhirnya hilang sebelum diganti dengan kimono model terusan, dan kemudian kimono wanita yang disebut kosode. Wanita mengenakan kosode dengan kain yang dililitkan di sekitar pinggang (koshimaki) dan/atau yumaki. Mantel panjang yang disebut uchikake dipakai setelah memakai kosode.







wah secara nggak langsung belajar fashion tradisional nih hehehe
ReplyDeleteTapi kalo kimononya sampai berlapis-lapis begitu lumayan panas juga ya ^^
infonya lengkap sekali makasih kak
ReplyDeleteElever Media Indonesia